Terbayang gak ya, bagaimana jadinya seumpama hamparan bumi yang luas ini ambruk terhempas ke lautan, sudah pasti seluruh isinya akan kacau balau dan tidak akan ada yang selamat, Astagfirullahaladzim min kulli dzanbin adzim.
Kenapa bumi tidak pernah terhanyut/ambruk ke laut? Mari kita simak cerita refrentatif serta nyata. 
Di dalam kitab Qishashu al Anbia’ pasal tentang penciptaan Bumi dan langit, diterangkan:

 Awal mula di waktu Allah Swt. hendak menjadikan bumi dan langit, Allah menciptakan Batu permata hijau sebanyak jumlah lapisan bumi dan langit, setelah Batu permata yang berwarna hijau itu jadi, Allah melihatnya dengan keagunganNya Batu permata tadi menciut ketakutan kepada Allah sampai-sampai meleleh menjadi air degan hamparan lautan yang sangat luas. Setelah itu Allah melihat hamparan lautan tadi sehingga lautan tadi mengeluarkan bui/kapok saking takutnya kepada Allah, dari bui tadi muncul sebidang tanah yang lebih pasnya tanah di bawah ka’bah -dari sinilah ka’bah/makkah dikatakan Ummul Qura/ninik moyangnya seluruh bumi- yang kemudian terus melebar mulai dari ujung barat sampai ujung timur, seperti semula Allah melihat sebidang tanah tersebut sehingga ia ketakutan pula sampai mengeluarkan asap yang akhirnya asap inilah yang menjadi langit luas di angkasa. 

Setelah sempurnanya bumi dan langit , supaya bumi tidak tenggelam ke dalam lautan, Allah memerintahkan malaikat yang panjang tangannya samapai ke ujung Timur bumi dan tangan yang satunya sampai pada bumi bagian barat dengan tugas memangku bumi tadi, akan tetapi malaikat masih membutuhkan pijakan di atas hamparan lautan luas tersebut, dan Allah mendatangkan sapi (al tsaur) dari surga guna sebagai pijakan malaikat di atas punuknya(gul ongguleh sapeh; madura red), panjang tanduk sapi tersebut mulai dari bumi yang ke 7 samapai menembus pada arasy, sedangkan moncongnya berada di dalam lautan -ulamak mengatakan jika sapi tersebut bernafas menghirup nafasnya maka lautan dunia akan surut dan jika ia melepaskan/menghela nafasnya maka lautan akan pasang, jadi pasang surutnya lautan di bumi ini akibat pola dari pernafasan sapi tersebut- malaikat masih tidak nyaman berpijak di atas punuk sapi tadi karena ia selalu bergerak, sehingga Allah memberikannya Batu permata mulai dari kepala sampai lehernya lantas ia kembali diam, akan tetapi sapi masih kurang bisa beradaptasi dengan laut, lalu Allah mengirimkan ikan hiu (al hut) sebagai pijkan sapi yang di atasnya ada malaikat yang memangku bumi, ikan tadi bisa beradaptasi di kedalaman laut karena mimang habitatnya, tapi apa yang terjadi ikan tersebut digoda oleh Syaitan terkutuk ” wahai ikan hut! Sudah hempaskan saja beban yang ada di atasmu, mesti itu membuatmu nyaman bebas berkeliaran” syetan berkali-kali menggodanya sehingga ia terperangkap pada godaan syetan, ketika ikan hut tersebut ingin berulah menghempaskan beban diatasnya yaitu sapi, malaikat dan bumi, Allah Swt. mengirimkan Batu permata seperti semula dan dimasukkan kedalam mulutnya sampai ke otaknya, dengan itu ia kembali tenang segala godaan syaitan tidak pernah ia gubris. 

Kesimpulan cerita di atas bumi yang kita pijaki adalah sesuatu yang terapung di lautan luas, ibarat kapal TITANIC bisa hancur dan tenggelam akibat kelalaian nahkodanya, bagaimana dengan bumi seandainya Allah memerintahkan malaikat untuk menghempaskannya?  Wallahu a’lam. 

Semoga bermanfaat…! 
Siput kecil, Bangkalan 30 maret 2017 M

Advertisements